Monday, September 10, 2012

Kembalikan hiburan untuk anak-anak !



Keren itu bukan berarti berlaku untuk semua kalangan.
Butuh waktu dan kedewasaan yang tepat agar bisa maksimal menikmati ke"keren"an sebuah mahakarya.*masih shock liat bocah2 koboy juni*r promoin The Raid tadi pagi. Apalagi saat salah seorang personilnya mengaku sudah menontonnya lebih dari sekali di bioskop. Secara tidak langsung memperlihatkan bobroknya sistem pengelolaan bioskop di Indonesia. Oi, jelas-jelas itu film ratingnya dewasa. Kok bisa bocah kecil lolos nonton??


Itulah tulisan di status fesbuk milik seorang teman saya pada tanggal 9 September 2012.


Harus diakui, jaman sekarang, sangat jarang sekali kita menemukan tayangan maupun hiburan yang pas untuk dinikmati anak-anak. Kalau kita nyalakan televisi kita dan tekan program apapun, pilihan yang ada hanya sinetron, berita, boyband/girlband, sinetron, acara-acara musik abg-abg alay hipster yang ngga jelas kontennya, sinetron, sinetron dan sinetron. Yah, kecuali beberapa stasiun TV seperti sp*** toon, mungkin gl**al dengan sponge b*b-nya dan sha*n the sheep. Selain itu, jaraang sekali. Bahkan, saya kaget ketika yang ada di stasiun TV indonesia, yang diperuntukkan untuk anak-anak kecil, ini malah acara-acara seperti Yan* masi* dibawah *mur. Anak-anak indonesia mau dijadiin apa?

Ok, tontonan kartun udah jarang, tapi bukannya masih ada yang lain? Apa lagi? Jaman dulu, walaupun bukan kartun, namun masih ada tayangan-tayangan yang menurut saya cukup 'edukatif' untuk anak-anak. Seperti power rang*rs, wir* sableng, ker* sakti, bo b* ho, apapun deh yang bercerita tentang seorang pahlawan dan sikap-sikap kepahlawanannya. Nggak sekedar itu, kita juga diajari cara bersikap, bermain dalam kehidupan sehari-hari, dan juga arti persahabatan, lewat Si Uny*l (buatan Indonesia). Sekarang? Bahkan yang namanya power rangers aja anak-anak pada nggak tahu.

Lagu gimana? Jaman saya, banyak lagu anak-anak yang terkenal, biasanya dinyanyikan oleh agnes monica, trio kwek kwek, joshua dan berbagai macam penyanyi cilik lainnya. Nah, penyanyi cilik jaman sekarang, di *dola C*lik nyanyinya gak jauh-jauh beda sama yang dinyanyiin orang-orang yang kemarin diputusin pacarnya. Mungkin kak set* udah pensiun kali ya, udah tua. Miris.

Bahkan film-film bioskop anak jaman sekarang sudah tidak ada lagi yang seperti Pet*alangan Sherina. Kartun pun, kebanyakan berasal dari barat.


Mungkin karena kurangnya hiburan untuk anak-anak itu, mereka mencoba mencari sesuatu lain yang bisa menghibur diri mereka dengan segala 'keterbatasan' yang ada. Akibatnya timbullah generasi dimana anak-anak sudah sms-an, BBM-an, galau, pacaran. Tidak terasa ruh anak-anak pada diri mereka.

Disini yang saya lihat adalah suatu kezaliman. Dimana hilangnya waktu untuk anak-anak untuk bermain. Dimana segala hiburan diperuntukkan untuk orang dewasa. Apakah rugi bila anda membuat hiburan untuk anak-anak? Atau mungkin apakah anak-anaknya yang tidak lagi mau dihibur dengan hiburan anak-anak? Apakah rugi untuk membudayakan anak-anak seperti layaknya anak-anak? Anak-anak jaman sekarang tidak diperlakukan seperti waktu mereka, para produser dan remaja, pada zamannya, masih kanak-kanak.

Jangan remehkan hiburan anak-anak. Melalui hiburan tersebut, kita membangun karakter bangsa. Berlebihan? Saya rasa tidak. Dalam hiburan-hiburan tersebut, kita menyisipkan segala nilai yang diperlukan untuk anak-anak tersebut di masa depannya untuk memimpin dan membangun negeri ini, agar mereka siap dalam menghadapi segala masalah yang ada. Kita mengimbau anak-anak agar terus bahagia, agar mereka memperhatikan orang-orang di sekitarnya, agar mereka adil dalam menjadi pemimpin, agar mereka terus berinovasi demi membangun masa depan.

Semua pesan itu, tersirat dalam kartun, film, atau tayangan anak-anak yang dulu kita tonton. Coba lihat pesan-pesan yang disampaikan di doraemon (inovasi), digimon (setia pada teman-teman), Si Unyil (kerakyatan, menyelesaikan masalah sekitar), Toy Story (hargai mainan, pesan untuk anak-anak). Keberhasilan yang kita capai hingga akhirnya kita bisa seperti ini, tidak terlepas dari segala tayangan yang kita tonton.

Saya mengimbau kepada stasiun-stasiun TV di Indonesia, Presiden Indonesia, atau siapapun yang peduli dan membaca tulisan ini. Kembalilah membangun budaya untuk anak-anak. Ajarkanlah mereka sifat-sifat terpuji. Bangun mereka dengan luapan emosi dan kegembiraan. Ajari mereka untuk menghargai sekitarnya. Salah satu caranya adalah dengan membangkitkan kembali budaya hiburan untuk anak-anak. Dengan cara membuat tayangan untuk anak-anak, film, kartun, lagu, game, atau apapun yang berkaitan dengan hiburan untuk anak-anak, melalui media, karena anak-anak pada dasarnya suka bermain dan suka hiburan.

Sisipkanlah, dalam hiburan-hiburan itu, sifat-sifat terpuji dan membangun bagi anak-anak. Setidaknya, pada waktu kecil, mereka bisa merasakan kegembiraan. Bisa merasakan kebebasan. Bisa merasakan saat-saat polos dimana mereka tidak memikirkan pengaruh dari rangsangan hormon seksual (baca : pacaran), tidak memikirkan uang, tidak memikirkan hutang, tidak memikirkan kekuasaan. Bebas.

Bahkan, setidaknya, ya setidaknya, masukkanlah lagu-lagu anak anak kedalam film film layar lebar indonesia, agar orang dewasa juga bisa mengingat lagu anak-anak dan kembali mengajarkan anak-anaknya lagu-lagu tersebut. Misalnya, lirik lagu "tik-tik-tik.. bunyi hujan.." dimasukkan kedalam film laskar pelangi. Atau bahkan dimasukkan kedalam film perahu kertas. Saya terinspirasi dengan beberapa anime jepang dan film-film barat, yang memasukkan lagu-lagu jaman dulu-nya, lagu anak-anak mereka, dengan aransemen sendiri, kedalam film film bertema serius. Kalau saja lagu anak-anak jaman dulu itu dimasukkan ke film-film bioskop di Indonesia, pasti momennya mengharukan dan masuk kedalam emosi pemirsa, karena ini lagu-lagu yang mengandung kenangan bagi pemirsa. Setelah nonton itu, seenggaknya seminggu lah mereka (yang telah menonton film tersebut) mengulang-ulang memutar lagu tersebut dirumah, mungkin anak-anaknya bisa dengar, dan bisa diajarkan.

Itu hanya sebagian kecil dari contoh bagaimana kita bisa kembali membudayakan anak-anak dengan budaya anak-anak. Masih banyak yang lainnya, yang saya yakin para produser, sutradara, animator, developer, atau para professional lainnya di bidang hiburan lebih tahu daripada saya. Saya hanya ingin mengajak supaya kita membahagiakan kembali anak-anak Indonesia, dengan hiburan yang berkualitas dan membangun karakter bangsa, agar tidak cuma komplain di masa depan, di masa ketika anak-anak tersebut telah menggantikan kita sebagai pemimpin, baik di tingkat daerah maupun nasional, dimana bila tanpa pembangunan karakter yang baik, anak-anak tersebut yang sudah bukan anak-anak lagi, akan dengan mudah terjerumus ke jalan yang salah. Dan, naudzubillah, bila hal itu terjadi, kehidupan di Indonesia akan semakin susah dan menderita. Dan kita hanya bisa menyalahkan.

Sunday, August 26, 2012

Minimarket dan Usaha Kecil di Indonesia

Hmm.. Lama rasanya saya tidak bersua disini.

Sore ini, di salah satu stasiun TV di Indonesia, ditayangkan suatu acara yang mengisahkan penderitaan pedagang-pedagang kecil yang terus diusik dengan menjamurnya mini market di Indonesia.

Salah satu pemilik toko kecil di sana (kalau tidak salah namanya Udin), merasa dirugikan karena dibangunnya mini market yang berjarak tidak jauh dari usahanya, sekitar 3 meter. Pendapatan Udin merosot seketika. Jelas saja karena usaha kecil Udin tidak akan berdaya melawan usaha sebesar minimarket itu, yang pengalaman, jaringan dan modal usahanya sudah besar. Ditambah lagi konsumen pasti akan lebih nyaman untuk belanja ke minimarket karena lebih bersih, ber-AC, dan barang-barangnya lebih lengkap.

Dalam acara tersebut disebutkan bahwa sekarang Udin sudah tidak berharap untuk mendapat untung lagi, sekedar balik modal saja sudah cukup, untuk menutup tokonya. Bisnis Udin pun sekarang harus digabung dengan bisnis pulsa untuk sekedar memenuhi kebutuhan keluarganya.

Menjamurnya mini market di Indonesia bukan hal baru, dapat dilihat di sekeliling rumah anda betapa banyak minimarket yang ada disana, tidak cuma satu namun biasanya sederetan jalan penuh dengan mini market.

Apakah hal tersebut diperbolehkan? Ternyata, se­suai Peraturan Bupati Serang Nomor 27/2006 tentang Waralaba Kemitraan, jarak minimarket dengan pasar tradisional seharusnya minimal 500 meter. Kalau jarak dengan usaha kecil dan menengah seingat saya minimal 3 kilo meter.

Perbup 27/2006 yang salah satunya mengatur jarak antara minimarket dengan pasar tradisional memang multitafsir. Alasannya, dalam Perbup itu ada pengecualian diperbolehkannya minimarket di dekat pasar asalkan pasar di zona perdagangan. Nah, definisi zona perdagangan itu apa? Apa dimana-mana termasuk zona perdagangan? Namun, zona perdagangan atau bukan, seharusnya pemilik minimarket sadar akan hal itu dan berhenti membangun karena akan merugikan UKM-UKM disekitarnya, apalagi kalau jaraknya cuma 3 meter.

Entahlah kalau di daerah lain, namun seharusnya ada peraturan yang bisa melindungi usaha kecil dari ancaman pihak yang memiliki modal dan jaringan besar seperti minimarket. Mungkin ada, namun penegakkannya tidak tegas sehingga kasus seperti ini kerap terjadi.

Jujur, miris sekali rasanya melihat UKM-UKM di Indonesia ditekan dengan cara seperti ini. Akibatnya, kreatifitas masyarakat akan berkurang, pendapatan masyarakat kecil akan terhambat, tidak menutup kemungkinan punahnya UKM di Indonesia ini, yang tersisa tinggal minimarket-minimarket saja.

Karena saya tinggal di Jakarta, saya ingin memberitahu yang terpilih menjadi gubernur DKI Jakarta nanti, untuk mengatasi masalah ini. Peraturannya tidak harus rumit, seperti memberi jarak minimal antara minimarket dan UKM, dan penegakkannya harus tegas. 


Kalau bisa, bahkan membantu UKM yang ingin berkembang dengan cara memodalinya atau memberinya fasilitas seperti AC, membangun pasar untuk tempat jualan, dsb. Namun, kebijakan tersebut harus menguntungkan kedua belah pihak, baik minimarket maupun UKM, sehingga tidak ada pihak yang merasa paling dirugikan. Bukan hal yang salah untuk belanja di minimarket, namun harus ada pengaturan agar tidak ada yang menzalimi salah satu pihak.

Apabila Jakarta bisa, maka Jakarta bisa menjadi contoh bagi daerah lainnya terkait kebijakan tentang minimarket.

Maaf apabila ada kesalahan, semoga murni dari ketidaktahuan saya. Semoga bisa menginspirasi untuk membangun Indonesia yang lebih baik :D

Thursday, November 10, 2011

Paradigma Pendidikan

Sekedar copas dari website PPSDMS, menginspirasi banget

Paradigma Pendidikan di Negeri Ini
October 5, 2011 By herry
Nurulhuda Halim
Oleh: Nurulhuda Halim

Jika kita membahas pendidikan, tentu kita ingat peranannya dalam kemajuan suatu bangsa. Contohnya di Jepang, pada tahun 1945 negara ini berantakan karena bom atom yang meluluhtantakkan Hiroshima-Nagasaki. Tindakan pertama Perdana Menteri Jepang saat itu adalah menanyakan jumlah guru yang masih tersisa. Sekarang kita bisa melihat betapa luar biasanya Jepang dengan segala keunggulannya di berbagai bidang. Begitu pula jika kita melihat China sang raksasa ekonomi, serta Malaysia yang dahulu murid dan sekarang malah menjadi “guru” bagi Indonesia. Kesuksesan ini terjadi karena kesadaran yang tinggi akan kualitas sistem pendidikan di kedua negara tersebut.

Ada sebuah ungkapan menarik tentang lingkup pendidikan, ”knowledge is power, but character is more”. Inilah yang telah diterapkan di banyak negara maju. Sebagai contoh, untuk sebuah pelajaran seni, Amerika memberikan penilaian yang bersifat afektif yakni good, excellent dan perfect. Mengapa demikian? Itu disebabkan ada pesan moral yang ingin disampaikan kepada sang murid, yakni menghargai perbedaan persepsi, kreativitas dan kebebasan berekspresi. Lain halnya dengan di negeri ini yang lebih senang menggunakan angka dengan rentang antara 0-100 saat memberikan penilaian. Akibatnya, jika anda meminta satu kelas siswa sekolah untuk menggambar, maka setengahnya akan menggambar dua buah gunung yang mengapit matahari di tengahnya, dan ditambah laut atau sawah. Tidak heran, karena mindset mereka adalah guru mereka akan memberi nilai dari bagusnya gambar, bukan dari kreasi atau inovasi yang bisa mereka hasilkan.

Contoh lainnya adalah Selandia Baru. Di negara ini memberlakukan sistem yang cukup menarik, siswa level SMA hanya diwajibkan mengambil dua mata pelajaran wajib, yakni Matematika dan Bahasa Inggris. Selebihnya adalah pelajaran pilihan yang disesuaikan dengan cita-cita masing-masing. Bagi yang ingin menjadi dokter silahkan mengambil pelajaran Kimia dan Biologi, bagi penyuka Fisika dan Kimia akan diarahkan menjadi engineer, sedangkan pencinta ilmu ekonomi bisa mengambil Statistik dan Akuntansi.

Dengan menerapkan sistem pendidikan semacam ini, siswa di Selandia Baru akan belajar sesuai minatnya, dan hasilnya negara kecil ini bisa menjadi penghasil susu dan makanan terbaik di dunia. Bagaimana dengan Indonesia? Siswa SMA di sini “diharuskan” menjadi manusia super yang menguasai seluruh ilmu, baik sains, sosial dan juga bahasa. Ya, mereka memang mempelajarinya namun tidak banyak yang bisa mengaplikasikan ilmu yang telah didapat. Hal ini bisa dilihat dari lulusan SMA yang bisa dikatakan tidak memiliki kemampuan untuk bekerja.

Sebagai perbandingan lain, siswa SMA di Amerika mempelajari teori integral dengan sederhana lalu dilanjutkan dengan pemahaman aplikatif dan studi kasus. Berbeda dengan disini dimana hampir semua teori kalkulus universitas diberikan dan walhasil mereka bisa menyelesaikan berbagai jenis tipe soal namun tidak mengerti bagaimana memanfaatkan ilmu tersebut selain agar nilai mereka diatas 80.

Dari kasus diatas, dapat kita simpulkan bahwa kesalahan pendidikan di indonesia terletak pada paradigma terhadap pendidikan itu sendiri, terutama oleh pemerintah. Hal ini tercermin pada beberapa hal. Pertama, hampir semua proses pendidikan hanya dinilai oleh angka dan indikator lain yang tidak mampu memandang perkembangan peserta didik. Kedua, proses pendidikan hanya berupa perpindahan materi buku ke otak siswa secara kognitif tanpa memahami esensi dan makna filosofis ilmu tersebut. Selanjutnya, pembentukan pola pikir tetapi melupakan pembangunan karakter dan penanaman nilai sehingga banyak sekali koruptor cerdas di negeri ini. Ketiga, sistem pendidikan kita belum mampu mengakomodir perbedaan potensi dan kemampuan setiap individu anak bangsa ini.

Di masa mendatang, diharapkan kepada para pengambil kebijakan, guru dan stakeholder pendidikan lainnya seperti orang tua dan LSM, agar bisa fokus untuk memperbaiki kesalahan paradigma tentang pendidikan yang terjadi di neger ini serta turunan masalahnya. Tidak lain hal ini bertujuan agar nasib bangsa ini lebih baik dan bermartabat.

Oleh: Nurulhuda Halim (Mahasiswa Teknik Metalurgi FTTM ITB 2009)

Thursday, August 4, 2011

Cuti sementara

Wassup! Sori nih cuy, kayaknya gw bakal cuti sementara dari mengupdate post (Ah, bo'ong kan lo? Gak, bener. Karena mulai banyak acara, dan quota internetan gw udah mau abis)

Harap sabar aja, insya Allah gak lama kok cutinya.

Doakan semoga gw bisa berbagi lagi tentang hal-hal lain ya !

Benarkah Semakin Berat, Semakin Hebat?

Tulisan Rhenald Kasali di koran Sindo, 14 Juli 2011

Sebagian besar pembaca, mungkin dibesarkan dalam kultur ekonomi yang sulit sehingga kaya dengan berbagai peribahasa seperti: Hemat Pangkal Kaya dan Rajin Pangkal Pandai. Kita bermain layang-layang di antara pematang sawah yang tiada batasnya, menangkap belut di antara lumpur-lumpur sungai yang airnya bening, bermain bersama anak-anak kampung dengan tiada henti canda, tawa, dan keringat.

Bagaimana anak-anak kita sekarang? Lahan-lahan kosong telah berganti menjadi kebun sawit atau perumahan mewah. Tak ada lagi lapangan badminton, arena bermain layang-layang dan air yang mengalir bening. Pestisida dan pupuk kimia merusak tanah. Tapi anak-anak punya mainan baru, Facebook, Twitter, online games, warnet, dan bimbel. Pergaulan fisik diganti oleh dunia maya, statistik, dan ilmu berhitung diganti kalkulator dan software. Dulu kita hanya belajar sembilan mata pelajaran sehingga masih banyak waktu untuk bermain. Bagaimana anak-anak kita?

Bukannya dikurangi, tetapi semakin hari yang dipaksakan masuk ke dalam otak anak-anak kita semakin banyak. Sewaktu saya menulis "Sekolah Untuk Apa?" minggu lalu, saya menyebut anak saya di kelas sepuluh diharuskan menuntaskan 16 mata pelajaran, seorang ibu menyurati saya karena anaknya yang belajar di MI diwajibkan tuntas 23 mata pelajaran. Sementara di New Zealand dan banyak negara maju anak-anak sekolah hanya mengambil 6 mata pelajaran. Ketika mereka menganut spirit "The Power of Simplicity", kita justru tenggelam dalam spirit benang kusut, "kalau terlalu mudah tidak akan melahirkan kehebatan".

Bukan hanya itu, di banyak negara selain dirampingkan, mata ajar wajib juga dibatasi hanya dua, selebihnya dijadikan pilihan yang dikaitkan dengan karier masa depan. Bagaimana di sini? Mata ajar yang banyak itu adalah mata ajar yang "sakral", wajib diambil semuanya. Kesakralan itu sesungguhnya hanya semu saja, karena mata ajar agama disamakan dengan berhitung dan sejarah ala kita, yaitu ala hafal-hafalan. Bukan belajar dari sejarah, tetapi pengetahuan tentang sejarah. Bukan akhlak dan moral dalam beragama, melainkan hafalan ayat. Dan bukan logika matematika, melainkan bagaimana menurunkan rumus. Lengkaplah penderitaan anak-anak kita.

Ubah Cara Pandang

Namun sewaktu saya bercerita bagaimana sekolah di Belanda, Cina, dan New Zealand, ada juga orang tua yang protes. Mereka tak menginginkan sekolahnya dibuat lebih mudah. “Sekolah itu memang harus sulit dan anak-anak harus berjuang,”. Kalau dibuat mudah, bagi orang tua ini, maka sekolah tak akan menghasilkan apa-apa. Saya dapat mengerti pandangan ini karena anaknya termasuk anak yg cerdas, tuntas semua mata pelajaran dengan nilai tinggi. Namun saya kurang mengerti bagaimana orangtua rela menyita seluruh waktu masa muda anaknya hanya untuk belajar.

Mendidik bukanlah untuk melahirkan orang-orang yang bingung, tahu semua tapi selalu bertanya "saya harus melakukan apa?" ini adalah realita, semakin banyak ditemui orang yang tak bisa bekerja dengan prioritas. Anda mungkin pernah mendengar ucapan Stephen Covey, "Dahulukanlah Yang Utama". Atau seperti kata Maxwell, "Bekerjalah dengan prioritas karena 80% hasil yang engkau capai hanya berasal dari 20% upayamu." Orang yang ingin menuntaskan semua tugas (dan banyak) bisa bagus di ijazah tapi bisa bingung dalam kehidupan. Kata para ulama, kesempurnaan hanyalah milik Tuhan. Tetapi seperti Michael Jackson yang sudah sempurna, manusia selalu ingin lebih sempurna lagi, sampai akhirnya rusaklah wajah, tubuh, dan kesehatan jiwanya.

Saya juga kurang mengerti kalau pendidik kurang memahami bahwa talenta dan leadership merupakan kunci untuk mencapai keberhasilan hidup. Untuk itulah talenta harus diasah, diberi ruang, dan waktu agar ia tumbuh . Leadership maupun entrepreneurship diasah dari keseharian di luar bangku sekolah. Diuji dalam interaksi kehidupan.

Tentu saya bertanya-tanya kalau pendidikan kita dibuat lebih ramping apakah benar menjadi lebih baik. Saya selalu teringat masa-masa memulai karir sebagai penguji di program S3. Saat seorang tua, kandidat doktor diuji, yang mengajukan pertanyaan ada 13 orang hebat. Namanya juga orang hebat, pertanyaannya pasti sulit bagi seorang pemula. Tetapi Semua penguji tidak puas, kandidat digoreng kekiri, diongseng ke kanan hingga nyaris hangus. Di ruang rapat semua menyatakan tidak puas. Sebagai doktor muda yang baru kembali dari sekolah doktor saya tak punya suara yang berarti. Saya hanya bertanya, "beginikah cara bapak-bapak menguji seorang calon doktor?"

Semua orang terdiam, dan saya pun terkejut dengan pertanyaan saya. Beberapa orang menatap tajam, karena mereka adalah mantan guru-guru saya dan terkenal di hadapan publik. Karena malu telah berta-kata bodoh, saya teruskan saja berkata jujur. Saya katakan kita harus percaya diri. Ujian dengan penguji sebanyak ini menunjukkan kita kurang pede. Lagi pula tak ada yang bisa lulus dengan ujian seperti ini. Semua dosen hanya marah-marah karena kepintarannya tak dimengerti orang lain, dan memberi saran yang saling bertentangan.

Sayapun mengatakan andaikan saya yang diuji di sini, saya berani jamin saya pun tidak akan lulus. Pertanyaan ujian terlalu luas. Di Amerika Serikat, kita hanya diuji oleh empat orang pembimbing, dan bila kita bingung, kita tidak dibantai, malah dibantu. Di Indonesia, kalau kita membantu mahasiswa kita dianggap berkolusi. Di SLTA negara-negara maju, jumlah mata ajar memang ramping, tetapi sejak remaja mereka sudah biasa membuat makalah dengan kedalaman referensi dan terbiasa bekerja dengan metode ilmiah.

Demikianlah persekolahan kita. Bukannya disederhanakan, justru dibuat menjadi lebih kompleks. Semua mata ajar kita anggap sakral. Buku ditambah. Subjek ditambah. Guru juga ditambah. Saya kadang tak habis berpikir, bagaimana kita bisa menghasilkan kehebatan dari keribetan ini.

Saya tentu tak akan protes kalau dengan sekolah yang ditempa kesulitan ini kita bisa pergi ke bulan. Fakta menunjukkan sebaliknya. Bahkan TKW yang Sekolah Dasarnya ditempuh dengan sama beratnya dengan para dokter saja hanya berakhir di ujung kesulitan. Tidakkah kita bertanya, jangan-jangan ada yang tidak beres dengan kurikulum persekolahan kita?

Saya juga bertanya-tanya, akankah anak-anak dididik dengan baik kalau hanya belajar 6 mata pelajaran seperti di New Zealand, Denmark atau negara-negara industri lainnya? Namun fakta yang saya temui, ternyata pendidikan yang hanya fokus pada enam mata pelajaran itu menempatkan pendidikan New Zealand terbaik keenam di dunia. Rasanya di sana juga tak ada siswa yang kesurupan saat ujian, apalagi contekan massal. Perlukah kita meremajakan cara berpikir kita?

Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/412716/44/

Si Penunggang Kuda dan Ular

Ada sebuah pepatah yang mengatakan, “penolakan” dari orang yang arif adalah lebih berharga daripada, “dukungan” si bodoh.

Aku, Salim Abdali, bersaksi bahwa hal itu benar dalam jangkauan pengalaman yang lebih agung, juga benar dalam taraf pengalaman yang lebih rendah.

Hal ini terwujud dalam kebiasaan Sang Bijak, yang telah menurunkan kisah Si Penunggang Kuda dan Ular.

Seorang Penunggang kuda, dari suatu tempat yang aman, melihat ada seekor ular menyusup ke dalam tenggorokan seseorang lagi tidur. Penunggang kuda itu menyadari bahwa apabila orang itu dibiarkannya terus tidur, tentulah racun ular tersebut akan mematikannya

Oleh karena itu ia mencambuk Si Tidur sampai terbangun. Karena mendesaknya waktu, ia pun memaksa orang itu pergi ketempat yang terdapat sejumlah buah apel yang busuk, dan memaksanya memakan buah-buah busuk itu. Setelah itu, Si Penunggang Kuda, memaksanya minum air sungai sebanyak-banyaknya.

Selama itu, orang tersebut selalu berusaha melepaskan diri, tangisnya, “Apa dosaku, hai kemanusiaan, sehingga aku kau siksa begini kejam?”

Akhirnya, ketika ia hampir lemas, dan sore hari tiba, lelaki itu jatuh ke tanah dan memuntahkan buah apel, air, dan ular tadi. Ketika diketahuinya apa yang telah dimuntahkannya, ia memahami apa yang telah terjadi, dan mohon maaf kepada Si Penunggang Kuda.

Ini syaratnya. Dalam membaca kisah ini, jangan mengelirukan sejarah untuk ibarat, atau ibarat untuk sejarah. Mereka yang dianugerahi pengetahuan memiliki kewajiban. Mereka yang tidak berpengetahuan, tidak memiliki apapun di balik apa yang bisa mereka terka-terka.

Orang yang di tolong itu mengatakan, “Kalau tadi kau mengatakan hal itu, tentu saya terima perlakuanmu itu dengan rasa terima kasih.”

Si Penunggang Kuda menjawab, “Kalau tadi kukatakan hal itu, tentu kau tidak percaya Atau kau menjadi kejang ketakutan. Atau kau lari pontang-panting. Atau malah tidur lagi.”

Sambil memacu kudanya, orang yang diliputi rahasia itu segera berlalu.

Catatan

Salim Abdali (1700-1765) menyebabkan para Sufi menerima caci-maki dari pada cerdik-cendekia yang sebelumnya tak pernah terjadi karena pernyataannya bahwa seorang Sufi ulung bisa mengetahui ketidakberesan seseorang, dan mungkin harus bertindak cepat dan dengan cara yang tampaknya bertentangan dengan seharusnya dilakukan untuk menolong orang itu, dan oleh karenanya bisa menimbulkan kemarahan orang-orang yang sebenarnya tidak mengetahui apa yang ia lakukan .

Kisah ini dikutip oleh Abdali dari Rumi. Bahkan kini, mungkin tidak banyak orang mau menerima pernyataan yang tersirat dalam kisah ini. Namun, pernyataan semacam itu telah diterima oleh semua Sufi, dalam bentuk yang berbeda-beda. Dalam komentarnya terhadap hal ini, guru Sufi Haidar Gul hanya mengatakan, ada batas tertentu, yang apabila dilanggar menyebabkan keburukan bagi manusia, yakni menyembunyikan kebenaran hanya agar tidak menyinggung perasaan mereka yang dipikirannya tertutup.”

————————————————————

K I S A H – K I S A H S U F I

Kumpulan kisah nasehat para guru sufi

selama seribu tahun yang lampau

oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)

Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984


sumber: http://ruangmakna.wordpress.com/2011/07/27/si-penunggang-kuda-dan-ular/

Tuesday, August 2, 2011

Kisah Sahabat Nabi: Ja’far bin Abu Thalib, Si Burung Surga

REPUBLIKA.CO.ID, Ja'far bin Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim masuk Islam sejak awal dan sempat mengikuti hijrah ke Habasyah. Ia malah sempat mendakwahkan Islam di daerah itu.

Dalam Perang Muktah, ia diserahi tugas menjadi pemegang bendera Islam. Setelah tangan kanannya terpotong dia memegang bendera dengan tangan kiri. Namun tangan kirinya juga terpotong, sehingga dia memegang bendera itu dengan dadanya. Akhirnya, ia mati syahid dengan tubuh penuh luka dan sayatan pedang.

Di kalangan Bani Abdi Manaf ada lima orang yang sangat mirip dengan Rasulullah SAW, sehingga seringkali orang salah menerka. Mereka itu adalah Abu Sufyan bin Harits bin Abdul Muthallib, sepupu sekaligus saudara sesusuan beliau. Qutsam Ibnul Abbas bin Abdul Muthallib, sepupu Nabi. Saib bin Ubaid bin Abdi Yazin bin Hasyim. Ja’far bin Abu Thalib, saudara Ali bin Abu Thalib. Dan Hasan bin Ali bin Abu Thalib, cucu Rasulullah SAW. Dan Ja'far bin Abu Thalib adalah orang yang paling mirip dengan Nabi SAW di antara mereka berlima.

Ja’far dan istrinya, Asma’ bin Umais, bergabung dalam barisan kaum Muslimin sejak dari awal. Keduanya menyatakan Islam di hadapan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebelum Rasulullah SAW masuk ke rumah Al-Arqam.

Pasangan suami istri Bani Hasyim yang muda belia ini tidak luput pula dari penyiksaan kaum kafir Quraisy, sebagaimana yang diderita kaum Muslimin yang pertama-tama masuk Islam. Namun mereka bersabar menerima segala cobaan yang menimpa.

Namun yang merisaukan mereka berdua adalah kaum Quraisy membatasi geraknya untuk menegakkan syiar Islam dan melarangnya untuk merasakan kelezatan ibadah. Maka Ja’far bin Abu Thalib beserta istrinya memohon izin kepada Rasulullah untuk hijrah ke Habasyah bersama-sama dengan para sahabat lainnya. Rasulullah SAW pun mengizinkan.

Ja'far pun menjadi pemimpin kaum Muslimin yang berangkat ke Habasyah. Mereka merasa lega, bahwa Raja Habasyah (Najasyi) adalah orang yang adil dan saleh. Di Habasyah, kaum Muslimin dapat menikmati kemanisan agama yang mereka anut, bebas dari rasa cemas dan ketakutan yang mengganggu dan yang menyebabkan mereka hijrah.

Ja’far bin Abu Thalib beserta istri tinggal dengan aman dan tenang dalam perlindungan Najasyi yang ramah tamah itu selama sepuluh tahun.

Pada tahun ke-7 Hijriyah, kedua suami istri itu meninggalkan Habasyah dan hijrah ke Yatsrib (Madinah). Kebetulan Rasulullah SAW baru saja pulang dari Khaibar. Beliau sangat gembira bertemu dengan Ja’far sehingga karena kegembiraannya beliau berkata, "Aku tidak tahu mana yang menyebabkan aku gembira, apakah karena kemenangan di Khaibar atau karena kedatangan Ja’far?"

Begitu pula kaum Muslimin umumnya, terlebih fakir miskin, mereka juga bergembira dengan kedatangan Ja’far. Ia adalah sosok yang sangat penyantun dan banyak membela golongan dhuafa, sehingga digelari Abil Masakin (bapak orang-orang miskin).

Abu Hurairah bercerita tentang Ja’far, "Orang yang paling baik kepada kami (golongan orang-orang miskin) ialah Ja’far bin Abu Thalib. Dia sering mengajak kami makan di rumahnya, lalu kami makan apa yang ada. Bila makanannya sudah habis, diberikannya kepada kami pancinya, lalu kami habiskan sampai dengan kerak-keraknya."

Belum begitu lama Ja’far tinggal di Madinah, pada awal tahun ke-8 Hijriyah, Rasululalh SAW menyiapkan pasukan tentara untuk memerangi tentara Romawi di Muktah. Beliau mengangkat Zaid bin Haritsah menjadi komandan pasukan.

Rasulullah berpesan, "Jika Zaid tewas atau cidera, komandan digantikan Ja’far bin Abi Thalib. Seandainya Ja’far tewas atau cidera pula, dia digantikan Abdullah bin Rawahah. Dan apabila Abdullah bin Rawahah cidera atau gugur pula, hendaklah kaum muslmin memilih pemimpin/komandan di antara mereka."

Setelah pasukan sampai di Muktah, yaitu sebuah kota dekat Syam dalam wilayah Yordania, mereka mendapati tentara Romawi telah siap menyambut dengan kekuatan 100.000 pasukan inti yang terlatih, berpengalaman, dan membawa persenjataan lengkap. Pasukan mereka juga terdiri dari 100.000 milisi Nasrani Arab dari kabilah-kabilah Lakham, Judzam, Qudha’ah, dan lain-lain. Sementara, tentara kaum Muslimin yang dipimpin Zaid bin Haritsah hanya berkekuatan 3.000 tentara.

Begitu kedua pasukan yang tidak seimbang itu berhadap-hadapanan, pertempuran segera berkobar dengan hebatnya. Zaid bin Haritsah gugur sebagai syahid ketika dia dan tentaranya sedang maju menyerbu ke tengah-tengah musuh.

Melihat Zaid jatuh, Ja’far segera melompat dari punggung kudanya, kemudian secepat kilat disambarnya bendera komando Rasulullah dari tangan Zaid, lalu diacungkan tinggi-tinggi sebagai tanda pimpinan kini beralih kepadanya. Dia maju ke tengah-tengah barisan musuh sambil mengibaskan pedang kiri dan kanan memukul rubuh setiap musuh yang mendekat kepadanya. Akhirnya musuh dapat mengepung dan mengeroyoknya.

Ja’far berputar-putar mengayunkan pedang di tengah-tengah musuh yang mengepungnya. Dia mengamuk menyerang musuh ke kanan dan kiri dengan hebat. Suatu ketika tangan kanannya terkena sabetan musuh sehingga buntung. Maka dipegangnya bendera komando dengan tangan kirinya.

Tangan kirinya putus pula terkena sabetan pedang musuh. Dia tidak gentar dan putus asa. Dipeluknya bendera komando ke dadanya dengan kedua lengan yang masih utuh. Namun tidak berapa lama kemudian, kedua lengannya tinggal sepertiga saja dibuntung musuh. Ja'far pun syahid menyusul Zaid.

Secepat kilat Abdullah bin Rawahah merebut bendera komando dari komando Ja’far bin Abu Thalib. Pimpinan kini berada di tangan Abdullah bin Rawahah, sehingga akhirnya dia gugur pula sebagai syahid, menyusul kedua sahabatnya yang telah syahid lebih dahulu.

Rasulullah SAW sangat sedih mendapat berita ketiga panglimanya gugur di medan tempur. Beliau pergi ke rumah Ja’far, didapatinya Asma’, istri Ja’far, sedang bersiap-siap menunggu kedatangan suaminya. Dia mengaduk adonan roti, merawat anak-anak, memandikan dan memakaikan baju mereka yang bersih.

Asma’ bercerita, "Ketika Rasulullah mengunjungi kami, terlihat wajah beliau diselubungi kabut sedih. Hatiku cemas, tetapi aku tidak berani menanyakan apa yang terjadi, karena aku takut mendengar berita buruk. Beliau memberi salam dan menanyakan anak-anak kami. Beliau menanyakan mana anak-anak Ja’far, suruh mereka ke sini.”

Asma' kemudian memanggil mereka semua dan disuruhnya menemui Rasulullah SAW. Anak-anak Ja'far berlompatan kegirangan mengetahui kedatangan beliau. Mereka berebutan untuk bersalaman kepada Rasulullah. Beliau menengkurapkan mukanya kepada anak-anak sambil menciumi mereka penuh haru. Air mata beliau mengalir membasahi pipi mereka.

Asma' bertanya, "Ya Rasulullah, demi Allah, mengapa anda menangis? Apa yang terjadi dengan Ja’far dan kedua sahabatnya?"

Beliau menjawab, "Ya, mereka telah syahid hari ini."

Mendengar jawaban beliau, maka reduplah senyum kegirangan di wajah anak-anak, apalagi setelah mendengar ibu mereka menangis tersedu-sedu. Mereka diam terpaku di tempat masing-masing, seolah-olah seekor burung sedang bertengger di kepala mereka.

Rasulullah berdoa sambil menyeka air matanya, "Ya Allah, gantilah Ja’far bagi anak-anaknya... Ya Allah, gantilah Ja’far bagi istrinya."

Kemudian beliau bersabda, "Aku melihat, sungguh Ja’far berada di surga. Dia mempunyai dua sayap berlumuran darah dan bertanda di kakinya."


Redaktur: cr01
Sumber: Shuwar min Hayaatis Shahabah/Ahlul Hadist

STMIK AMIKOM